HASAN TIRO

Oleh Risman A Rachman – Opini (*

TEUNGKU Muhammad Hasan Tiro atau yang lebih akrab dipanggil Hasan Tiro sudah berpulang ke sisi Tuhan (3/6). Jika mengikuti kabar berita media saya menduga Hasan Tiro berpulang dengan bahagia. Tapi juga Hasan Tiro berpulang dengan membawa satu pertanyaan yang ia sendiri tak bisa menjawabnya.
Jika masih boleh menduga maka ada dua kebahagian utama bagi Hasan Tiro . Pertama, ia berpulang dengan bahagia karena ia sudah melakukan tugas yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang melakukan tugas yang ia tidak bisa lakukan.
Hasan Tiro memang tidak disambut dengan upacara kemerdekaan (bebas dari Indonesia) kala ia kembali mencium tanah leluhurnya, Aceh. Namun begitu, ia tetap disambut sepenuhnya sebagai Wali Nanggroe Aceh yang merdeka (bebas) dalam menentukan pilihannya termasuk memilih untuk merestui “jalan damai” sebagai tahapan lebih lanjut yang bisa melampaui makna dari kemerdekaan Aceh secara fisik yakni Aceh yang berdaulat mengurusi dirinya sendiri dalam rumoh rayeuk (rumah besar) keindonesiaan sebagai salah satu seuramo donya (serambi dunia).
Sebagai salah satu pewaris jalannya sejarah Aceh saya menduga Hasan Tiro memahami betul bahwa “jalan damai” sebagai satu takdir gerak sejarah keacehan yang sudah saatnya ditempuh setelah sebelumnya Aceh menempuh jalan takdirnya sendiri yakni “jalan meudagang” (Aceh Tua), “jalan prang” (Aceh Lama), dan kini :”jalan dame” (Aceh Baru).
Itulah kebahagiaan pertama Hasan Tiro . Dan kebahagiaan kedua Hasan Tiro adalah karena Hasan Tiro berpulang setelah ia menunaikan janjinya yakni pulang ke Aceh. Hasan Tiro tidak hanya pulang karena alasan rindu kampung sebagaimana dulu dijadikan lataralasan kepulangannya. Hasan Tiro bahkan berpulang di tanah leluhurnya dan kini dikebumikan di samping pusara Pahlawan Nasional, Chik Di Tiro.
Kepulangannya ke Aceh dalam usia tua itulah yang membuat saya menduga satu hal terkait pertanyaan yang tersisa di benaknya Hasan Tiro , yakni “adakah penerus Aceh yang bisa membuat peta “jalan pulang” (Aceh Masa Depan) sebagai takdir terakhir jalan sejarah Aceh menuju masa depannya?
Jika boleh masih menduga pertanyaan ini muncul di benak Hasan Tiro karena memang ia tidak ditakdirkan secara historis untuk merumuskan peta jalan pulang sebagai jalur yang masih harus dilalui ureung Aceh menuju Gampong Masa Depannya. Inilah takdir sejarah baru yang melekat pada diri Ureung Aceh paska kepulangan Hasan Tiro yang masih harus dicari rumusannya dalam patahan-patahan sejarah Aceh yang masih berserakan dalam wujud Imagined Aceh.
Terakhir, meminjam istilah James T Siegel dalam efilog The Rope of God, karya klasik tentang pergolakan Aceh bolehlah saya bertanya siapa gerangan sosok ureung Aceh yang akan “kerasukan” tugas sejarah guna memimpin takdir di “jalan pulang” menuju Aceh Masa Depan?
Peace dan Heart
Apa yang bisa dijadikan tanda untuk sampai pada kesimpulan bahwa ureung Aceh sudah menemukan apa yang belum dirumuskan oleh Hasan Tiro terkait Peta Jalan Pulang? Ini memang bukan ulasan ilmiah namun saya juga tidak bisa menjelaskan mengapa pertemuan dua kata kunci berikut seperti membuka “tabir” Peta Jalan Pulang itu sendiri.
Kata kunci itu adalah kata yang usai tsunami semakin dekat dengan lidah ureung Aceh dan secara bahasa memiliki akarnya dalam bahasa Aceh, yakni peace dan heart (dame dan hate). Kata peace atau dame itu sendiri sudah sering diucapkan oleh banyak ureung Aceh khususnya sejak Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer dan semakin digemakan sejak Aceh diluluhlantakkan oleh tsunami. Bersamaan dengan itu pula kata heart bermunculan yang oleh penyanyi Aceh, Rafly kerap dinyanyikan dalam satu kalimat “Ubat hate allah-allah ubat sosah piasan beuna. “
Sekali lagi ini bukan penjelasan ilmiah karena pertemuan dua kata kunci itu menghasilkan satu kata yang menjelaskan Aceh (pe-ACEH-eart) dan secara tidak sengaja pula di dalam kata Aceh itu juga ada satu kata yang memiliki makna menang yakni ACE.
Jika saja kita setuju kalau setiap kata mengandung makna dan setiap makna tidak saja mengandung getaran atau spiritnya maka saya kembali menduga bahwa Peta Jalan Pulang Aceh memang sudah ada dalam kedirian ureung Aceh itu sendiri. Maka secara sederhana bisa ditegaskan bahwa ureung Aceh akan bisa menemukan “jalan pulang” menuju Gampong Masa Depannya manakala terus menumbuhkembangkan spirit perdamaian yang didasari pada niat yang iklas, dengan hati (pikiran dan perasaan) yang bersih, dan dengan kepercayaan (trust) yang kuat.
Lebih dari itu, jika semuanya dikelola dengan suatu pendekatan seni (ART pada kata heart) maka Aceh yang sebenarnya (Aceh Masa Depan) dapat diraih kembali. Pada saat itulah ucapan Hasan Tiro mengutip kata retorik Spoke Zarathustra-nya Nietzsche ditemukan maknanya yakni “jadikan damai untuk menang.”
***
* Penulis adalah fasilitator Resolusi Konflik IMPACT.
# Opini Serambinews, Mon, Juni 7th 2010, 09:14

Read more: http://www.atjehcyber.net

Iklan