POSTED BY SANG PENUNGGU ISTANA DARUDDUNIA ON 23:32

Udep merde’ka, mate syahid;
langet sihet awan peutimang,
bumoé’reunggang ujeuen peurata,
salah narit peudeueng peuteupat,
salah seunambat teupuro dumna

ITULAH memori 26 Maret 1873 – 26 Maret 2010 adalah titah Sultan Mahmud Syah masih digunakan sebagai spirit perang menentang penjajah Belanda. Beberapa pesan inti dari pesan Sultan ini merupakan modal utama untuk peutimang nanggroe. Sekarang, pesan Sultan ini sudah tidak begitu diamalkan oleh rakyat Aceh. Mereka malah membalik pesan ini menjadi: udep merdeka, asai na beulanja. But ta peulaku lage jen ek u awan.

Pesan itu penting kita ingat lagi mengingat, beberapa hari lagi kita akan mengingat kembali hari penyerangan Belanda ke Aceh. Menurut sejarah, ultimatum perang Aceh Belanda yang diproklamasikan oleh Gubernur Hindia Belanda Komisaris Nieuwenhuijzen pada tanggal 26 Maret 1873 terhadap kerajaan Aceh Darusssalam yang dipimpin oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah (1870 – 1874).

Setelah negosiasi gagal antara Sidi Tahir utusan Nieuwenhuijzen dengan Sultan Aceh Alaidin MahmudSyah agar Aceh menyerah kepada Belanda pada 24 Maret 1873. Namun Sultan bersikap, daripada menggadaikan tanah airnya, maka Sultan bertitah kepada seluruh rakyat untuk bersiap berperang melawan Belanda.

Ungkapan di atas adalah salah satu pesan terkenal. Ketika genderangan perang dimulai yakni Udep merde’ka, matesyahid; langet sihet awan peutimang, bumoé’reunggang ujeuen peurata, salah narit peudeueng peuteupat, salah seunambat teupuro dumna.

Komisaris Pemerintah Hindia Belanda, berdasarkan kekuasaan dan wewenang yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Aceh, dan menandaskan seluruh pantai, pelabuhan, teluk dan tempat-tempat yang memungkinkan pendaratan di wilayah Aceh dinyatakan diblokade oleh Belanda. “Brengt terkennisse van een iegelijk wien zulks mögt aangaan, dat naar aanleiding van dentoestand van oorlog, waarin het Gouvernement van Nederlandsch-Indie met hetrijk van Atjeh verkeert, de havens en landingsplaatsen, kusten, rivieren, baaijen en kreeken van genoemd rijk en zijne onderhoorighedenworden verklaard te zijn in staat van blokade, met al de gevolgen daaraanverbonden en dat met de uitvoering van dezen maatregel is belast de Kommandantder in de wateren van Atjeh gestationneerde Zeemagt” (Talsya: 1982).

Kapal Citadel van Antwerpen Belanda terus memuntahkan peluru ke darat pertanda dimulai perang.terhadap Aceh. Pada 8 April 1873, Belanda mendaratkan 3.000 serdadu yang mendapatkan perlawanan sengit dari pejuang Aceh. Bahkan pimpinan pasukan Jenderal Kohler tewas dibedil pada 14 April 1873 di depan Mesjid Raya Baiturrahman. Wal hasil, Belanda mundur dan kembali ke Batavia. Dan inilah awal perang Aceh Belanda yang dimulai pada 26 Maret1873 dan berakhir pada 12 Maret 1942 bersamaan dengan pendaratan Jepang.Ulama dan rakyat bahu membahu mempertahankan tanah air Aceh. Banyak diantara mareka yang syahid sehingga makam berserakan di gampong-gampong dan hutan-hutan Aceh, baik dipantai utara, barat dan tengah Aceh. Operasi sapu bersih dilakukan di mana mana, pasukan khusus dibentuk yaitu Marsose” dan menjadi pasukan elit Belanda untuk menangkap pejuang Aceh. Menurut salah satu laporan mulai 8 Februari 1902-23 Juli 1904, paling kurang 2.902 pejuang Aceh di Gayo dan Alas syahid. Sekitar 1.159 korban perang ini terdiri dari perempuan dan anak-anak korban keganasan pasukan khusus Belanda. Begitu juga di Meulaboh antara tahun1902 1913 telah tewas 2.230 orang Aceh. (Paul Van’t Veer:1979).

Raja Tampok dan Raja Ubiet
Begitu juga tidak terhitung jumlahnya kaum muslimin yang syahid di Aceh Besar, Pidie dan Aceh Utara. Bahkan ada penduduk yang mengungsi menyelamatkan jiwanya ke Semenanjung Tanah Melayu, ke tanah Arab bahkan ada yang lari ke hutan-hutan seperti yang dialami oleh keluarga Raja Tampok dan Raja Ubiet. Mereka melarikan diri dari kejaran Belanda dari Keumala-Tangse Pidie ke pedalaman pucuk Gunung Itam. Mereka baru menyadari Indonesia merdeka pada tahun 1985 semasa Gubernur Ibrahim

Hasan. Di mana sekarangsebagian besar pengikut Raja Tampok ini yang dipimpin oleh Teuku Raja Keumala(50) bermukim di Pucuk Gunung Itam, Nagan Raya berbatasan dengan Aceh Tengah dan Pidie Jaya. Dari pihak Belanda lebih dari 2.000 orang serdadu terbaring tenang di Kerkhoof, BandaAceh. Demikian juga tidak terhitung yang gugur di belantara hutan Aceh. Sebagai bukti sejarah kuburan mereka masih bisa kita temukan kalau kita menelusuri pelosok negeri Aceh baik di timur, barat maupun tengah Aceh. Bahkan empat jenderal Belanda gugur di bumi Iskandar Muda.

Belanda pun mengirim C Snouck Hurgronje ke Mekkah untuk mempelajari kultur masyarakat Aceh yang tahan berperang. Sehingga para politisi Belanda berucap “Cukuplah Sudah” (Paul Van’t Veer: 1979) dan mengharapkan perang ini segera dapat diakhiri. Pesan ini sangat terkenaldi Belanda, dimana mereka sangat prihatin dengan dana dan akibat perang yangmereka alami selama menaklukkan Aceh.

Memang Belanda akhirnya harus meninggalkan Aceh. Mereka kabur dari Aceh setelah Jepang mendarat di Kuta Raja pada jam 11 malam pada 11 Maret 1942. Mendaratnya Jepang atas bantuan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang dipimpin oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh. Ini juga diikuti oleh mobilisasi begitu cepat pasukan Jepang untuk menangkap Jenderal R.T. Overakker, komandan teritoriumSumatera Tengah, yang telah mengungis ke Tanah Gayo pada 28 Maret 1942.

Aceh adalah daerah terakhir yang dimasukkan ke dalam pemerintahan HindiaBelanda yang melahirkan Indonesia.Aceh juga yang pertama keluar dari pemerintahan Hindia Belanda. Bahkan ketika agresi militer sekutu tahun 1946 dan 1947 mhttp://www.blogger.com/img/blank.gifenduduki seluruh wilayah Indonesia dan Presiden Soekarno ditangkap, maka roda

pemerintahan Indonesia sempat berpusat di Kutaraja dibawah komando Pemerintahan Daerah Republik Indonesia (PDRI) pimpinan Syafruddin Prawira Negara. Karena itulah, Soekarno menggelar Aceh sebagai modal perjuangan bangsa. Inilah mungkin renungan sejarah minggu ini. Tentu saja ini bukan hendak membuka luka lama dan mencari musuh. Perang yang dialami oleh rakyat Aceh sudah ratusan tahun. Karena itu, renungan ini harus kembali mengambil pesan dan hikmah dari titah Sultan di atas. Di situlah substansi keacehan bisa didapatkan kembali. Keacehan dan perang adalah satu napas. Di tengah-tengahnya adalah pesan inti Sultan di atas yaitu wibawa dan ketegasan sebagai orang Aceh yang punya jatidiri.

Sumber : Penulis – M Adli Abdullah
Pemerhati Sejarah dan Budaya Aceh